Rabu, 04 Desember 2013

sejarah latarbelakang PKI

1 Berdirinya PKI
Benih – benih paham Marxis datang dari luar negeri dan mulai ditanamkan di bumi Indonesia pada masa sebelum perang dunia I, yaitu dengan datangnya seorang pemimpin buruh negeri Belanda bernama H.J.F.M Sneevliet. Ia adalah anggota Sociaal Democratische Arbeiderspartij ( SDAP ) atau partai buruh sosial demokrat.
Di Indonesia ia mula – mula bekerja sebagai anggota staf redaksi pada surat kabar Soerabajaasch Handelsblad, tidak lama kemudian pada tahun 1913 ia pindah ke Semarang dan menjadi seketaris pada Semarangese Handelsvereniging. Bagi dia tinggal di Semarang adalah menguntungkan karena Semarang adlah pusat Vereniging van Spoor en Tramweg Personel ( VSTP ), serikat buruh yang tertua di Indonesia dan pada masa itu merupakan suatu perkumpulan yang sudah tersususn baik. Sebagai pemimpin sosialis yang berpengalaman dalam waktu singkat ia berhasil membawa VSTP ke arah yang lebih radikal. Atas prakarsanya pada tanggal 9 mei 1914 bersama – sama dengan orang – orang sosialis lainnya seperti J.A Brandsteder, H.W Dekker, dan Bergsma berhasil didirikan suatu organisasi yang diberi nama Indische Sociaal – Democratische Vereniging
( ISDV ).
Pada tahun 1915 ISDV berhasil menerbitkan majalah Het Vrije Woord dengan redaksi Sneevliet, Bergsma, dan Adolf Baars. Sneevliet dan kawan – kawan merasa bahwa ISDV tidak dapat berkembang  karena tidak berakar di dalam massyarakat Indonesia. Oleh karena itu, mereka menganggap adalah lebih efektif untuk bersekutu dengan gerakan yang lebih besar yang dapat bertindak sebagai jembatan kepada massyarakat Indonesia. Mula – mula bersekutu dengan Insulinde yang mempunyai anggota lebih besar daripada ISDV ( tahun 1917 lebih kurang 6000 orang ). Akan tetapi, karena tidak memenuhi sasaran tujuan ISDV, sesudah satu tahun, kerja sama itu bubar. Sasaran kemudian dialihkan kepada Sarekat Islam pada masa itu tahun 1916 mempunyai ratusan ribu anggota dan merupakan suatu gerakan raksasa di dalam pergerakan nasional Indonesia, dengan menggunakan taktik infiltrasi yang dikenal dengan nama “blok di dalam”, ISDV berhasil menyusup ke dalam SI. Caranya ialah dengan menjadikan anggota ISDV  menjadi anggota SI dan sebaliknya menjadikan anggota SI menjadi anggota ISDV. Dalam waktu satu tahun Sneevliet dan kawan – kawannya telah mempunyai pengaruh yang kuat di kalangan anggota amggota SI. Mereka memperkuat pengaruhnya dengan jalan menunggangi keadaan buruk akibat perang dunia I dan panen padi yang jelek serta ketidakpuasan buruh perkebunan sebab upah yang rendah dan membumbungnya harga – harga.
Ada beberapa hal yang menyebabkan berhasilnya ISDV melakukan infiltrasi ke dalam tubuh SI:
1.      Central Srekat Islam ( CSI ) sebagai badan koordinasi pusat masih sangat lemah kekuasaannya. Tiap – tiap cabang SI bertindak sendiri – sendiri secara bebas. Para pemimpin lokal yang kuat mempunyai pengaruh yang menentukan di dalam SI cabang.
2.      Kondisi kepartaiaan pada masa itu memungkinkan orang untuk sekaligus menjadi anggota lebih dari satu partai. Hal ini disebabkan pada mulanya organisasi – organisasi itu didirikan bukan sebagai suatu partai politik melainkan sebagai suatu organisasi guna mendukung berbagai kepentingan sosial budaya dan ekonomi. Di kalangan kaum terpelajar menjadi kebiasaan bagi setiap orang untuk memasuki berbagai macam organisasi yang dianggapnya dapat membantu kepentingannya.
Kemudian Sneevliet dan kawan-kawan berhasil mengambil alih beberapa pemimpin muda SI menjadi pemimpin ISDV. Yang terpenting antara pemimpin muda itu adalah Semaun dan Darsono yang pada tahun 1916 menjadi anggota SI cabang Surabaya. Surabaya pada waktu itu adalah pusat SI. Tidak lama kemudian Semaun pindah ke Semarang ketika itu SI cabang semarang telah mendapat pengaruh kuat dari ISDV. Semaun berhasil mengembangkan keanggotaannya dengan pesat, dari 1.700 orang pada tahun 1916 menjadi 20.000 orang setahun kemudian. Akan tetapi, karena orientasi yang Marxistis, di bawah pengaruh ISDV, mereka menjadi lawan CSI yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto. SI Semarang menyerang CSI sama sengitnya seperti mereka menyerang pemerintah kolonial dan kapitalis asing. Oleh karena campur tangan ISDV dalam pertikaian antara CSI dengan SI Semarang, dalam kongresnya bulan Oktober 1917 Sarekat Islam memutuskan untuk menghentikan segala hubungan dengan ISDV.
Sementara itu, di dalam ISDV sendiri timbul perpecahan. Oleh karena sikap pemimpinnya yang terlalu radikal, golongan yang moderat di dalam ISDV mengundurkan diri. Pada bulan September 1917 mereka membentuk SDAP cabang Hindia Belanda yang kemudian menjadi Indische Sociaal-Democratische Partij (ISDP).
Pada waktu pecah revolusi Bolsyewik di Rusia, tubuh ISDV telah bersih dari unsur-unsur yang moderat dan dapat dikatakan sikapnya telah bersifat komunistis. Berita tenang kemenangan kaum Bolsyewik disambut dengan penuh antusiasme. Baars dengan berapi-api menyerukan agar revolusi Rusia diikuti sekarang juga di Hindia Belanda. Pada akhir tahun 1917 ISDV mulai mengerahkan serdadu-serdadu dan pelaut-pelaut Belanda untuk aksi-aksi mereka. Dalam waktu 3 bulan mereka berhasil mengumpulkan 3.000 orang di dalam gerakan tersebut. Kaum merah mengorganisasi demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan oleh serdadu-serdadu dan pelaut-pelaut yang berkelahi dengan polisi. Darsono melalui surat kabar ISDV menyerukan dikobarkannya pemberontakan dan dikibarkannya bendera merah, sedangkan partai-partai yang moderat seperti Budi Utomo, Insulinde, SDAP Hindia Belanda dan SI mendesak pemerintah kolonial belanda untuk menggantikan Volksraad dengan parlemen pilihan rakyat. Krisis november segera mereda ketika Gubernur Jenderal van Limburg Stirum menjanjikan akan dilakukan perubahan-perubahan yang luas. Ketika suasana dapat dikuasai, pemerintah kolonial segera mengambil tindakan-tindakan keras. Anggota-anggota militer yang indisipliner dan menimbulkan kekacauan dihukum berat, sedangkan pegawai negeri yang terlibat dimutasikan. Sneevliet diusir, sedangkan Darsono, Abdul Muis, dan beberapa pemimpin Indonesia lainnya ditangkap. Dengan tindakan ini ISDV mengalami depresi. Akhir 1918 merupakan akhir masa pertama pertumbuhan ISDV. Dengan demikian, pada akhir tahun 1918 gerakan kaum sosialis dapat dikatakan mati.
Masa tahun 1919 merupakan masa sulit bagi para anggota golongan Eropa di dalam ISDV. Sebagai akibat tindakan besar pemerintah kolonial, banyak diantara mereka yang dipenjarakan dan diusir dari Hindia Belanda. Karena kehilangan pemimpin serta kegagalan-kegagalan gerakan mereka di negeri Belanda dan Hindia Belanda, peran golongan Eropa di dalam ISDV menjadi berkurang. Muncullah aktivis-aktivis bangsa Indonesia di dalam pimpinan ISDV. Mereka itu antara lain adalah Semaun dan Darsono yang telah memperoleh didikan Sneevliet. Sebagai hasil kongres Serikat Islam tahun 1918, diangkatlah Darsono sebagai propagandis resmi CSI dan Semaun sebagai komisaris wilayah Jawa Tengah. Penempatan ini menunjukkan kemajuan ISDV karena para pemimpin utamanya yang berhaluan kiri mempunyai kedudukan kuat dalam Sarekat Islam. Selama tahun 1919 para pemimpin ISDV dari golongan Indonesia meningkatkan usahanya untuk mempengaruhi SI agar menjadi lebih radikal.
Dalam usahanya untuk menyalurkan aktivis partai-partai agar tidak membahayakan, pemerintah kolonial berusaha untuk mengalihkan kegiatan politik mereka kepada kegiatan ekonomi sebagai usaha untuk membantu menaikkan taraf hidup rakyat sesuai dengan “politik etis”. Ketika pemerintah kolonial bermaksud untuk mengalihkan SI menjadi organisasi buruh, hal itu sangat ditunggu dengan penuh minat oleh ISDV, karena hal ini akan dapat meningkatkan pengaruh SI Semarang yang lebih dekat hubungannya dengan persoalan buruh. Lagi pula hal itu mungkin akan menyebabkan para pemimpin CSI lebih memerhatikan ideologi kaum sosialis radikal dan mengurangi titik beratnya pada persoalan agama. Hal ini dianggap penting oleh ISDV, oleh karena ISDV sendiri terbtas kemampuannya untuk mengorganisasi kaum buruh, walaupun mempunyai pengikut-pengikut di kalangan pekerja-pekerja perkebunan, kuli-kuli, dan buruh-buruh pertanian yang tidak mempunyai tanah dan yang merupakan jumlah terbesar kaum buruh Indonesia.
Ketika SDAP di negeri Belanda pada tahun 1918 mempermaklumkan dirinya menjadi Partai Komunis Belanda (CPN), beberapa anggota bangsa Eropa ISDV mengusulkan untuk mengikuti jejak itu. Sebagai hasil gagasan mereka, pada kongres ISDV ke-7 di bulan Mei 1920 dibicarakan usul untuk menggantikan ISDV menjadi Perserikatan Kommunist di Hindia. Di antara sponsor utama terdapat Baars. Baars menyatakan dirinya berbicara atas nama para anggota yang menginginkan agar organisasi membedakan dirinya dari kaum sosialis revisions dan menyatakan hubungan kekeluargaannya dengan partai yang kemudian menjurus ke arah “Komintern”. Demikian pula Bergsma dan Semaun menyatakan keinginan untuk mengubah nama ISDV, dengan tujuan untuk membedakan diri dengan “kaum sosialis palsu” dan untuk mengidentifikasikan diri dengan Komintern. Menurut Bergsma, ISDV sudah sejak lama menjadi komunis.
Di lain pihak golongan yang menentang yang diwakili oleh Hartogh menganggap bahwa walaupun ISDV menaruh simpati kepada revolusi Bolsyewik di Rusia, tidak semua unsur komunisme cocok bagi alam Indonesia seperti sistem diktatur proletar dan sistem Sovyet yang menurut Baars merupakan program komunis yang paling esensial. Akhirnya, diadakanlah pemungutan suara untuk menentukan keputusan. Ternyata hanya cabang-cabang Surabaya, Bandung, dan Ternate yang menentang perubahan nama ISDV. Dengan demikian, Baars-Bergsma-Semaun cs. memperoleh kemenangan, dan pada tanggal 23 Mei 1920 ISDV merubah namanya menjadi Partai Komunist Hindia yang pada bulan Desember tahun yang sama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam susunan pengurus baru terpilih antara lain Semaun sebagai Ketua, Darsono sebagai Wakil Ketua, Bergsma sebagai Sekretaris, Dekker sebagai Bendahara, Baars, Sugono, dan lain-lain sebagai anggota pengurus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar