unduh disini sekarang
Jumat, 20 Desember 2013
Kamis, 05 Desember 2013
Rabu, 04 Desember 2013
perbudakan di AS
BAB
II. PEMBAHASAN
2.
1 Latar Belakang Perbudakan
Pada awalnya para budak yang
dipekerjakan di Amerika Serikat bagian selatan berasal dari Afrika Barat.
Penghidupan pokok rakyat Negro Afrika Barat adalah dari hasil pertanian,
disamping menangkap ikan dan berburu. Hasil pertanian yang terdapat di wilayah
itu antara lain seperti gandum, kapas, padi dan ketela. Di wilayah itu terdapat
beberapa kerajan yang nantinya lebih dikenal dengan nama negara Nigeria. Setiap
raja ataupun penguasa tentu memiliki budak-budak, hasil dari tawanan perang
yang kemudian dijadikan sebagai hak milik kekayaan negara. Dimana para budak
tersebut digunakan untuk membantu mengerjakan tanah-tanah pertanian dan
perkebunan.
Berbagai hal yang menyebabkan
timbulnya perbudakan di Afrika Barat adalah selain terjadinya perang, dimana
mereka yang kalah perang dijadikan tawanan kemudian digunakan sebagai tenaga
budak. Orang yang berhutang dapat pula dijadikan budak karena tidak dapat
melunasi hutangnya. Anak-anak yang dilahirkan dari keluarga budak dapat juga
menjadi budak karena mewarisi status orang tuanya yang dahulunya juga menjadi
budak.
Perbudakan biasanya dianggap sebagai
suatu kekayaan utama dari suatu suku bangsa. Perlu kita ketahui anak-anak para
budak tidak boleh dijual, melainkan harus ditampung dan dipelihara sebagai hak
milik keluarga. Meskipun mereka menjadi budak namun berhak memiliki kebebasan,
diperlakukan sebagai anggota keluarga dan sering dapat menjadi orang bebas
kembali dengan jalan membeli kemerdekaannya sendiri.
Perdagangan budak di Afrika Barat
mulai berkembang sejak ditemukannya Benua Amerika pada awal abad ke-16.
Mengenai daerah perdagangan di Afrika Barat, ada yang mengatakan bahwa
permulaan daerah perdagangan budak terjadi daerah Angola, Kongo, dan Guinea.
Selanjutnya meluas ke Sudan barat. Ada yang menyebut lain bahwa perdagangan
budak di Afrika barat itu berasal dari
daerah-daerah pedalaman yang jauh.
Orang-orang Portugis dan Spanyol
mulai menjalin hubungan perdagangan dengan penduduk pribumi. Maka sejak abad
ke-17 banyak didirikan tempat-tempat perdagangan di sepanjang pantai Afrika
Barat. Selain bangsa Portugis dan Spanyol, juga terdapat bangsa-bangsa Eropa
yang lain seperti Belanda, Inggris dan Perancis untuk melakukan perdangan
budak. Bangsa Belanda berhasil menguasai perdagangan budak di daerah pantai
Guinea pada 1595. Para budak diangkut oleh kapal-kapal Belanda dikirim ke
Brazilia utara.
Pada 1672, Inggris mendirikan suatu
organisasi dagang di Afrika Barat yang bernama the Royal African Company. Para
budak yang dibawa oleh kapal-kapal Inggris ditukar dengan hasil-hasil sperti
tekstil, anggur, senjata dan kebutuhan lain.begitu halnya dengan orang Perancis
yang turut mengusahakan perdagangan budak di Afrika Barat, yaitu di Senegal
pada 1662. Budak-budak tersebut biasanya dikirim ke wilayah Santo Domingo di
Kepulauan Haiti.
Ekspor budak yang dilakukan dari Afrika Barat yang dilakukan oleh
orang-orang Eropa Barat ke Benua Amerika berlangsung hampir empat abad lamanya,
yakni sejak permulaan abad ke-16 hingga tahun 1880.
2. 2 Perbudakan di Amerika Serikat
Impor budak ke wilayah Amerika
Serikat bagian Selatan dimulai pada 31 Agustus 1619 oleh John Rolfe, seorang
Belanda yang telah menjual sebanyak 20 orang Negro ke Virginia yang pada masa
itu merupakan koloni Inggris.
Wilayah Amerika Serikat bagian
selatan di masa periode kolonial Inggris
terbentang dari daerah Maryland sampai Georgia, mempunyai penghasilan pokok
beberapa hasil pertanian dan perkebunan yang merupakan sumber penghasilan
utama. Berbagai hasil industri di Inggris ditukar dengan hasil perkebunan di
daerah koloninya. Untuk mengusahakan jenis tanaman tembakau, koloni-koloni
mulai menggunakan tenaga-tenaga budak.
Latar belakang perbudakan di Amerika
Serikat bagian selatan, sesungguhnya sangat berkaitan erat dengan kondisi
geografisnya, khususnya dari keadaan ekologinya. Dalam suatu daerah yang
memiliki tanah subur memungkinkan tumbuhnya jenis-jenis tanaman perkebunan
seperti tebu, nila, kapas, gandum dan juga tembakau yang sesuai dengan
lingkungan alamnya. Hal inilah yang dapat mendorong terjadinya perbudakan di
daerah pertanian perkebunan di daerah selatan yang sangat memerlukan
tenaga-tenaga budak.
Hal-hal yang mendorong para kolonis
Amerika Serikat bagian Selatan untuk menggunakan tenaga-tenaga kulit hitam
ialah adanya problem tenaga kerja di berbagai daerah perkebunan. Orang-orang
kulit putih gagal menggunakan tenaga kerja dari penduduk asli suku Indian yang
sudah biasa hidup bebas dan merdeka di tanah-tanah perkebunan. Pemakaian tenaga
kerja kulit putih di perkebunan-perkebunan tidak efektif, karena disamping
tidak tahan terhadap iklim panas juga harga tenaganya sangat mahal.
2.3
Praktik Perbudakan
Praktik perbudakan yang terjadi di
wilayah Amerika Serikat di bagian selatan, merupakan lembaga sosial dimana
budak terikat oleh sejumlah peraturan yang dipaksakan kepadanya dan harus
ditaati olehnya. Praktik-praktik perbudakan menunjukkan adanya eksploitasi
sesama umat manusia. Budak-budak dianggap sebagai barang milik yang dikuasai
sepenuhnya oleh pemiliknya, sehingga mudah diperjualbelikan. Perbudakan sebagai
suatu lembaga sosial diatur dan dilindungi oleh undang-undang dari
Negara-negara dibagian wilayah selatan.
2.3
1 Organisasi Perbudakan
Sistem perbudakan yang terdapat di
Amerika Serikat bagian Selatan mempunyai kekhususan yang berbeda dengan sistem
perbudakan di Amerika Latin dan di Hindia Barat. Sistem perbudakan di Amerika
Latin menunjukan bahwa para pemilik budak masih memperhatikan prinsip-prinsip
kemanusiaan terhadap budak-budaknya. Para pemilik budak tak cenderung untuk
mengembangkan dan menggunakan lembaga budak secara intensif. Kaum pengusaha
perkebunan tidak bermaksud untuk mengeksploitasi tenaga-tenaga budak sehingga
dapat mengakibatkan hancurnya kehidupan dan kesehatan para budak.
Warga kulit putih di selatan
menganggap bahwa budak merupakan hak milik sah yang sebagian besar di pelihara
oleh para pengusaha perkebunan. Pemerintah federal tidak berwenang menyisihkan
sistim perbudakan yang terjadi di berbagai daerah. Hal ini sebenarnya sebagai
kelanjutan dari warisan era kolonial tanpa pengawasan dari pemerintah inggris.
Beberapa tokoh negarawan di selatan
berhasil memasukkan peraturan-peraturan yang di susun oleh kongres, berisi
ketentuan-ketentuan mengenai pelarian budak-budak negro dari suatu negara
bagian ke negara bagian yang lain harus di kembalikan ke pemiliknya. Peraturan
tersebut terkenal dengan nama Fugitive Slave Law, yang mulai di susun pada 1
februari,1793. Dengan demikian ketentuan ketentuan mengenai pelarian pelarian
budak yang pada umumnya menuju ke wilayah utara harus di kembalikan pada pihak
selatan.
Di dalam lembaga perbudakan semua
peraturan yang mengatur hubungan antara tuan dan budak di muat dalam peraturan
hukum yang di sebut The Black Codes. Peraturan-peraturan tersebut di legalisir
oleh Negara-negara bagian di selatan pada akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19.
Isi dari the black codes di antaranya adalah ;
a) Melindungi
hak milik budak
b) Mengawasi
setiap kemungkinan timbulnya gerakan-gerakan negro yang dapat membahayakan
kedudukan para pemiliknya.
Para
budak di larang melakukan perjajanjian dengan siapapun. Seorang budak tidak di
perbolehkan melakukan suatu kekerasan terhada seorang kulit putih. Sebaliknya,
pembunuhan yang di lakukan oleh warga kulit putih terhadap seorang budak
tidaklah di anggap sebagai suatu perbuatan kriminal.
Hukuman yang paling ringan bagi para
budak yang melanggar ketentuan dalam The Black Codes, ialah di pekerjakan
kembali di pekerjaan yang berat. Dapat terjadi pada salah satu anggota tubuh
budak terdapat bekas-bekas siksaan yang menandakan bahwa ia pernah melanggar
peraturan tersebut. Hukuman yang terberat miasalnya di lakukan oleh
komplotan-komplotan budak yang berusaha untuk melakukan pemberontakan harus
mengalami hukuman mati di tiang gantungan.
Pada masa wilayah Amerika Serikat di
bagian selatan masih merupakan koloni inggris, sebenarnya sudah ada
peraturan-peraturan yang mirip dengan The Black Codes, di Carolina misalnya,
sudah terbukti dahulu dibuat peraturan-peraturan yang melarang orang-orang
negro memiliki senjata api.
2.3.2 Perbudakan Sebagai Lembaga
Sosial
Pada
masa perbudakan masyarakat Negro dapat dikategorisasikan dalam dua kelompok
yakni orang – orang Negro bebas dan orang – orang Negro Budak, baik yang
bekerja sebagai pelayan Rumah Tangga maupun budak – budak yang bekerja di
tempat pertanian dan perkebunan.
Kelompok
Negro bebas berasal dari :
·
Dahulunya menjadi budak yang bekerja
sebagai pelayan rumah tangga yang merasa dirinya memiliki kehidupan sosial
yang lebih baik jika dibanding dengan
budak – budak pertanian.
·
Berasal dari hubungan gelap antara budak
– budak wanita dengan tuannya sendiri. Anak keturunannya disebut golongan
Mulatto. Anak – anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan orann Mulatto dengan
orang kulit putih juga disebut Negro bebas.
·
Para budak yang dapat membeli
kebebasannya sendiri dari tuannya
·
Para budak yang berhasil melarikan diri
dari tuannya biasanya ke wilayah Utara
Keadaan
ekonomi sosial orang – orang Negro bebas berbeda dengan mereka yang berstatus
budak. Diwilayah selatan, kelompok orang – orang Negro bebas yang berdiam di
pedesaan mempunyai kondisi sosial ekonomi cukup, banyak diantaranya menjadi
petani. Yang berada di kota sebagai ahli mesin, tukang kayu, pandai besi,
menjadi sains, dan sebagainya.
Para
budak diimpor dari Afrika Barat dipilih dan dikelompokkan berdasarkan perbedaan
suku bangsa. Hal ini bertujuan untuk menempatkan budak – budak tersebut sasuai
dengan keadaan fisik, sifat, perilaku, dan sebagainya.
Kehidupan
keluarga perkebunan memiliki hubungan sosial yang erat antara tuan dan budak.
Para budak sangat setia dan disiplin terhadap tuannya. terkadang mereka
memerintah terhadap budak – budak lain, sehingga budak tak sadar akan
kedudukannnya sebagai budak.
Para
budak tidak dapat melindungi keluarganya sendiri dari gangguan kulit putih.
Budak wanita tidak dapat melindungi dirinya terhadap keinginan pemuasan seksual
tuannya. Budak wanita hanya dapat perlindungan dari tuannya apabila mendapat
gangguan dari sesama budak.
Tempat
kediaman para budak perkebunan berupa gubug – gubug kecil yang terletak 3 mil
dari perkebunan dengan tujuan untuk memudahkan para budak bekerja. Dalam
mengawasi segala kegiatan par abudak perkebunan, ditempat – tempat gubung
didirikan pos – pos penjagaan. Setiap 1 – 4 minggu sekali dilakukan patroli
oleh para pengusaha perkebunan yang dibantu oleh mandornya.
2.3
3 Usaha Penghapusan Perbudakan
Diketahui bahwa
jumlah penduduk Negro yang berada di wilayah Utara relatif kecil. Tenaga Negro
di Utara pada umumnya digunakan sebagai pelayan Rumah tangga. Sejak
1804,wilayah Utara telah melarang adanya perbudakan.
Gerakan
anti perbudakan sudah terjadi pada abad ke 1, beberapa tokohnya antara lain John
Woolman dan Anthony Benezet. Setelah perang kemerdekaan, dipelopori oleh
kolompok Quacker, gerakan Abolisi dan masyarakat anti perbudakan mulai tersebar
di wilayah Utara. Para pemimpin kulit putih dan Negro, mendirikan suat gerakan
Abolisi yang terorganisasi dengan baik, terkenal dengan nama The Underground
Railroad. Gerakan ilegal ini didirikan pada tahun 1804, terdapat negara bagian
seperti Indiana, Illionis, Ohio, dan
Pennsylvania. Agar lebih aman, aktivitasnya dilakukan pada malam hari. Berbagai
cara dilakukan seperti Mulatto menyamar sebagai orang – orang kulit putih, dan
sebagainya.
Reaksi orang
Selatan dalam mengahadapi gerakan Abolisi yakni dengan mengeluarkan perintah
penangkapan terhadap tokoh dan anggota gerakan Abolisi, pengejaran terhadap budak
– budak yang melarikan diri kebagian Utara. Pemimpin Selatan menyamar untuk
menyelidiki keadaan masyarakat di Indiana dan Ohio. Ia berhasil mengetahui
tempat persembunyiannya dan meminta kembali para budaknya. Namun hal tersebut
ditolak karena pamimpin Selatan berada di wilayah bebas budak / anti budak.
Pada tahun
1830-an, bagian Utara sentimen antiperbudakan mulai kuat, di dukung oleh
gerakan tanah bebas budak yang menetang perluasan perbudakan ke beberapa
wilayah. Gerakan penghapusan perbudakan
pada tahun 183-an termasuk gigih. Mereka terus berjuang dalam melakukan
penghapusan perbudakan. Sebuah tahapan dari gerakan antiperbudakan ini termasuk
membantu pelarian budak ke tempat yang aman di bagian Utara melewati Tapal
batas masuk ke Kanada. Ruta – ruta rahasia di bentuk tahuan 1830 di seluruh
bagian Utara. Di Ohoi sendiri,
diperkirakan dari 1830 – 1860 kurang lebih 40000 budak pelarian ditolong unutk
bebas. Sekitar pada tahun 1840 sekitar 2000 kelompok antiperbudakan dengan
beranggotakan 200000 orang.
Terjadinya
suatu pemberontakan budak pada hakikatnya tidak terlepas dari keadaan
lingkungan sosial yang sangat menekan kehidupannya yang disebabkan oleh
berbagai tindakan dari pemiliknya. Disorganisasi keluarga dalam masyarakat
budak merupakan sumber utama timbulnya pemberontakan. Ada beberapa faktor
diantaranya yakni :
·
Perasaan tidak puas
Perasaan
tidak puas dari para budak itu karena adanya ascribed status yaitu bahwa warga kulit putih di Selatan yang
menganggap bahwa budak berstatus sebagai hak milik. Peraturan yang tercantum
pada The Black Codes sangat menekan perasaan para budak. Budak – budak sering
mengalami tekanan jiwa akibat perlakuan kejam dari para tuannya.
·
Putus asa
Para
budak – budak akan merasa kehilangan masa mendatang dan kepercayaan pada diri
sendiri. Perasaan putus asa dari para budak itu dapa tdikaitkan dengan keadaan
sosialnya yang amat menyedihkan.
Sebagai motor
penggerak dalam suatu pemberontakan diperlukan adanya pemimpin. Pemberontakan
itu selalu terjadi di pertanian dan perkebunan, karena tempat itu menjadi susatu komunitas budak yang
terisolasi. Para pemimpin budak di dalam mengorganisasi massanya dilakukan
secara rahasia.
Pemberontakan
budak Amerika Serikat sebenarnya telah terjadi sejak wilayah tersebut dikuasai
oleh Kolonis Inggris. Selama era koloni Inggris sampai berakhirnya Perang
Saudara di Amerika Serikat (1607 - 1865), telah terjadi 115 pemberontakan budak
yang terjadi di berbagia wilayah bagian di Amerika Serikat, sebagian besar di
wilayah Selatan.
Selama periode
1800 – 1864, telah terjadi 54 kali pemberontakna budak yang semuanya terdapat
di wilayah Selatan. Daerah virginia merupakan tempat paling banyak terjadi
pemberontakan. Selama periode 1800 – 1864 terjadi 20 kali.
Ada ke unikan
dalam mempelajari tokoh pemimpin budak dalam pemberontakan yakni pemimpin
tersebut dari budak rumah tangga yang mendapat kebebasan dan kemerdekaanya yang
tak lagi berstatus budak. Mereka bisa menjadi pemimpin pemberontakan bisa pula
menjadi penghianat karean menggagalkan rencana pemberontakan.
Ketiga peristiwa
pemberontakan budak yang terjadi pada 1800, 1822, dan 1831 yakni :
1.
Gabriel Prosser adalah budak rumah
tangga sebagai sais dengan tuan bernama Thomas Prosser. Ia seorang pengikut
kristiani dan sangat menekuni ajaran injil. Perjuangannya dalam menentang
perbudakan tu berdasarkan pada konsep – konsep agam dan rasional dimana
mengemukakan bahwa Tuhan akan membebaskan kaum budak. Dalam melakukan suatu
pemberontakan, ia dibantu oleh dua orang kulit putih. Mereka berusaha memncari
bantuan persenjataan dan bahan peledak. Ia merencenakan suatu pemberontakan di
daerah Henrico, dikota Richmond, Virginia, pada 1 september 1800. Pengikutnya
yang berjumlah 1100 budak dibagi dalam tiga kelompok besar. Dimana mereka harus
berhasil merebut gudang senjata dengan menyergap penjaganya.sebelum
melaksanakan rencana, ternyata rahasia pemberontakan telah bocor karean ada dua
budak yang mengkhianatinya dengan melapor kepada pemerintahan Virginia. Maka
dengan segera Virginia mengeluarkan tentara sejumlah 600 orang untuk mencegah
pemberontakan. Dengan demikian pemberontakan yang dilakukan oleh Gabriel
Prosser gagal karena adanya pengkhianatan dari dua budak rumah tangga. Kemudian
Gabriel di penjara pada 25 September 1800, dan dikirim ke kota Richmond. Ia
dipaksa untuk memberi informasi dengan siapa ia bersekongkol, namun tidak
dikatankannya maka ia mendapat hukuman mati di tiang gantung pada tanggal 7
Oktober 1800.
2.
Demark Vesey melakukan pemberontakan di bagian
South Carolina pada tahun 1822. Perjuangannya terpengaruh oleh konsep pemikiran
Gabriel Prosser. Ia juga menggunakan konsep agama dan ide dari revolusi
Perancis. Ia berusaha mencari bantuan ke Santo Domingo. Ia menetapkan
pemberontakan pada minggu kedua juli 1822.
Ia sangat berhati – hati. Namun perjuangannya juga gagal kerana penghianatan yang dilakukan oleh
orang yang ia percaya yakni bernama Devany. Akibat kegagalannya itu, 139 orang
ditahan, 47 orang dimaksukkan ke penjara termasuk 4 orang kulit putih, 35 orang
budak menjalani hukuman mati, Vesey sendiri menjalani hukuman mati di tiang
gantung.
3.
Nat Turner budak rumah tangga dan
mendapatkan kemerdekaannya menjadi Negro bebas. Ia sebagai seorang pendeta yang
tekun mempelajari isi Injil. Ia mneggunakan konsep supra natural dalam
melakukan perjuangannya membebaskan para budak. Ia juga gemar dalam mengelolah
hal – hal mistik sehingga Ia berideologi yang Missianistik artinya “bahwa dalam
situasi sosial yang kacau manusia sudah tidak berdaya lagi mengatasi dengan hal
– hal yang rasional”. Ia bertindak sendiri dalam melakukan pemberontakan takut
adanya penghianatan dari budak – budak lainnya. Ia memulai pemberontakan baru
pad atanggal 21 Agustus 1831. Sebagai langkah pertama ia beserta para
pengikutnya merusak dan membakar tanah – tanah perkebunan dan ia juga membunuh
orang - orang kulit putih sebanyak 60 orang di daerah Southampton. Ia dikatakan
sebagai “bandit besar”.
Sebagai
tindak balasan, budak yang terlibat dalam pemberontakan tersebut dibinasakan.
Nat Turner bersembunyi di pegunungan daerah Southampton selama enam minggu,
apda akhirnya ia beserta para pengikutnya berhasil di tangkap pada 30 Oktober
1831. Ia menjalani hukuman mati di tiang gantung. Pemberontakannya berakhir
pada tanggal 13 Oktober 1831.
sejarah latarbelakang PKI
1 Berdirinya PKI
Benih – benih paham
Marxis datang dari luar negeri dan mulai ditanamkan di bumi Indonesia pada masa
sebelum perang dunia I, yaitu dengan datangnya seorang pemimpin buruh negeri
Belanda bernama H.J.F.M Sneevliet. Ia adalah anggota Sociaal Democratische
Arbeiderspartij ( SDAP ) atau partai buruh sosial demokrat.
Di Indonesia ia mula –
mula bekerja sebagai anggota staf redaksi pada surat kabar Soerabajaasch
Handelsblad, tidak lama kemudian pada tahun 1913 ia pindah ke Semarang dan
menjadi seketaris pada Semarangese Handelsvereniging. Bagi dia tinggal di
Semarang adalah menguntungkan karena Semarang adlah pusat Vereniging van Spoor
en Tramweg Personel ( VSTP ), serikat buruh yang tertua di Indonesia dan pada
masa itu merupakan suatu perkumpulan yang sudah tersususn baik. Sebagai
pemimpin sosialis yang berpengalaman dalam waktu singkat ia berhasil membawa VSTP
ke arah yang lebih radikal. Atas prakarsanya pada tanggal 9 mei 1914 bersama –
sama dengan orang – orang sosialis lainnya seperti J.A Brandsteder, H.W Dekker,
dan Bergsma berhasil didirikan suatu organisasi yang diberi nama Indische
Sociaal – Democratische Vereniging
( ISDV ).
Pada tahun 1915 ISDV
berhasil menerbitkan majalah Het Vrije Woord dengan redaksi Sneevliet, Bergsma,
dan Adolf Baars. Sneevliet dan kawan – kawan merasa bahwa ISDV tidak dapat
berkembang karena tidak berakar di dalam
massyarakat Indonesia. Oleh karena itu, mereka menganggap adalah lebih efektif
untuk bersekutu dengan gerakan yang lebih besar yang dapat bertindak sebagai jembatan
kepada massyarakat Indonesia. Mula – mula bersekutu dengan Insulinde yang
mempunyai anggota lebih besar daripada ISDV ( tahun 1917 lebih kurang 6000
orang ). Akan tetapi, karena tidak memenuhi sasaran tujuan ISDV, sesudah satu
tahun, kerja sama itu bubar. Sasaran kemudian dialihkan kepada Sarekat Islam
pada masa itu tahun 1916 mempunyai ratusan ribu anggota dan merupakan suatu
gerakan raksasa di dalam pergerakan nasional Indonesia, dengan menggunakan
taktik infiltrasi yang dikenal dengan nama “blok di dalam”, ISDV berhasil
menyusup ke dalam SI. Caranya ialah dengan menjadikan anggota ISDV menjadi anggota SI dan sebaliknya menjadikan
anggota SI menjadi anggota ISDV. Dalam waktu satu tahun Sneevliet dan kawan –
kawannya telah mempunyai pengaruh yang kuat di kalangan anggota amggota SI.
Mereka memperkuat pengaruhnya dengan jalan menunggangi keadaan buruk akibat
perang dunia I dan panen padi yang jelek serta ketidakpuasan buruh perkebunan
sebab upah yang rendah dan membumbungnya harga – harga.
Ada beberapa hal yang menyebabkan
berhasilnya ISDV melakukan infiltrasi ke dalam tubuh SI:
1.
Central Srekat Islam ( CSI ) sebagai
badan koordinasi pusat masih sangat lemah kekuasaannya. Tiap – tiap cabang SI
bertindak sendiri – sendiri secara bebas. Para pemimpin lokal yang kuat
mempunyai pengaruh yang menentukan di dalam SI cabang.
2.
Kondisi kepartaiaan pada masa itu
memungkinkan orang untuk sekaligus menjadi anggota lebih dari satu partai. Hal
ini disebabkan pada mulanya organisasi – organisasi itu didirikan bukan sebagai
suatu partai politik melainkan sebagai suatu organisasi guna mendukung berbagai
kepentingan sosial budaya dan ekonomi. Di kalangan kaum terpelajar menjadi
kebiasaan bagi setiap orang untuk memasuki berbagai macam organisasi yang
dianggapnya dapat membantu kepentingannya.
Kemudian Sneevliet dan
kawan-kawan berhasil mengambil alih beberapa pemimpin muda SI menjadi pemimpin
ISDV. Yang terpenting antara pemimpin muda itu adalah Semaun dan Darsono yang
pada tahun 1916 menjadi anggota SI cabang Surabaya. Surabaya pada waktu itu
adalah pusat SI. Tidak lama kemudian Semaun pindah ke Semarang ketika itu SI
cabang semarang telah mendapat pengaruh kuat dari ISDV. Semaun berhasil
mengembangkan keanggotaannya dengan pesat, dari 1.700 orang pada tahun 1916
menjadi 20.000 orang setahun kemudian. Akan tetapi, karena orientasi yang
Marxistis, di bawah pengaruh ISDV, mereka menjadi lawan CSI yang dipimpin oleh
HOS Cokroaminoto. SI Semarang menyerang CSI sama sengitnya seperti mereka
menyerang pemerintah kolonial dan kapitalis asing. Oleh karena campur tangan
ISDV dalam pertikaian antara CSI dengan SI Semarang, dalam kongresnya bulan
Oktober 1917 Sarekat Islam memutuskan untuk menghentikan segala hubungan dengan
ISDV.
Sementara itu, di dalam
ISDV sendiri timbul perpecahan. Oleh karena sikap pemimpinnya yang terlalu
radikal, golongan yang moderat di dalam ISDV mengundurkan diri. Pada bulan
September 1917 mereka membentuk SDAP cabang Hindia Belanda yang kemudian
menjadi Indische Sociaal-Democratische Partij (ISDP).
Pada waktu pecah
revolusi Bolsyewik di Rusia, tubuh ISDV telah bersih dari unsur-unsur yang
moderat dan dapat dikatakan sikapnya telah bersifat komunistis. Berita tenang
kemenangan kaum Bolsyewik disambut dengan penuh antusiasme. Baars dengan
berapi-api menyerukan agar revolusi Rusia diikuti sekarang juga di Hindia
Belanda. Pada akhir tahun 1917 ISDV mulai mengerahkan serdadu-serdadu dan
pelaut-pelaut Belanda untuk aksi-aksi mereka. Dalam waktu 3 bulan mereka
berhasil mengumpulkan 3.000 orang di dalam gerakan tersebut. Kaum merah
mengorganisasi demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan oleh serdadu-serdadu dan
pelaut-pelaut yang berkelahi dengan polisi. Darsono melalui surat kabar ISDV
menyerukan dikobarkannya pemberontakan dan dikibarkannya bendera merah,
sedangkan partai-partai yang moderat seperti Budi Utomo, Insulinde, SDAP Hindia
Belanda dan SI mendesak pemerintah kolonial belanda untuk menggantikan
Volksraad dengan parlemen pilihan rakyat. Krisis november segera mereda ketika
Gubernur Jenderal van Limburg Stirum menjanjikan akan dilakukan
perubahan-perubahan yang luas. Ketika suasana dapat dikuasai, pemerintah
kolonial segera mengambil tindakan-tindakan keras. Anggota-anggota militer yang
indisipliner dan menimbulkan kekacauan dihukum berat, sedangkan pegawai negeri
yang terlibat dimutasikan. Sneevliet diusir, sedangkan Darsono, Abdul Muis, dan
beberapa pemimpin Indonesia lainnya ditangkap. Dengan tindakan ini ISDV
mengalami depresi. Akhir 1918 merupakan akhir masa pertama pertumbuhan ISDV.
Dengan demikian, pada akhir tahun 1918 gerakan kaum sosialis dapat dikatakan
mati.
Masa tahun 1919
merupakan masa sulit bagi para anggota golongan Eropa di dalam ISDV. Sebagai
akibat tindakan besar pemerintah kolonial, banyak diantara mereka yang
dipenjarakan dan diusir dari Hindia Belanda. Karena kehilangan pemimpin serta
kegagalan-kegagalan gerakan mereka di negeri Belanda dan Hindia Belanda, peran
golongan Eropa di dalam ISDV menjadi berkurang. Muncullah aktivis-aktivis
bangsa Indonesia di dalam pimpinan ISDV. Mereka itu antara lain adalah Semaun
dan Darsono yang telah memperoleh didikan Sneevliet. Sebagai hasil kongres
Serikat Islam tahun 1918, diangkatlah Darsono sebagai propagandis resmi CSI dan
Semaun sebagai komisaris wilayah Jawa Tengah. Penempatan ini menunjukkan
kemajuan ISDV karena para pemimpin utamanya yang berhaluan kiri mempunyai
kedudukan kuat dalam Sarekat Islam. Selama tahun 1919 para pemimpin ISDV dari
golongan Indonesia meningkatkan usahanya untuk mempengaruhi SI agar menjadi
lebih radikal.
Dalam usahanya untuk
menyalurkan aktivis partai-partai agar tidak membahayakan, pemerintah kolonial
berusaha untuk mengalihkan kegiatan politik mereka kepada kegiatan ekonomi
sebagai usaha untuk membantu menaikkan taraf hidup rakyat sesuai dengan
“politik etis”. Ketika pemerintah kolonial bermaksud untuk mengalihkan SI
menjadi organisasi buruh, hal itu sangat ditunggu dengan penuh minat oleh ISDV,
karena hal ini akan dapat meningkatkan pengaruh SI Semarang yang lebih dekat
hubungannya dengan persoalan buruh. Lagi pula hal itu mungkin akan menyebabkan
para pemimpin CSI lebih memerhatikan ideologi kaum sosialis radikal dan
mengurangi titik beratnya pada persoalan agama. Hal ini dianggap penting oleh
ISDV, oleh karena ISDV sendiri terbtas kemampuannya untuk mengorganisasi kaum
buruh, walaupun mempunyai pengikut-pengikut di kalangan pekerja-pekerja
perkebunan, kuli-kuli, dan buruh-buruh pertanian yang tidak mempunyai tanah dan
yang merupakan jumlah terbesar kaum buruh Indonesia.
Ketika SDAP di negeri
Belanda pada tahun 1918 mempermaklumkan dirinya menjadi Partai Komunis Belanda
(CPN), beberapa anggota bangsa Eropa ISDV mengusulkan untuk mengikuti jejak
itu. Sebagai hasil gagasan mereka, pada kongres ISDV ke-7 di bulan Mei 1920
dibicarakan usul untuk menggantikan ISDV menjadi Perserikatan Kommunist di
Hindia. Di antara sponsor utama terdapat Baars. Baars menyatakan dirinya
berbicara atas nama para anggota yang menginginkan agar organisasi membedakan
dirinya dari kaum sosialis revisions dan menyatakan hubungan kekeluargaannya
dengan partai yang kemudian menjurus ke arah “Komintern”. Demikian pula Bergsma
dan Semaun menyatakan keinginan untuk mengubah nama ISDV, dengan tujuan untuk membedakan
diri dengan “kaum sosialis palsu” dan untuk mengidentifikasikan diri dengan
Komintern. Menurut Bergsma, ISDV sudah sejak lama menjadi komunis.
Di lain pihak golongan
yang menentang yang diwakili oleh Hartogh menganggap bahwa walaupun ISDV
menaruh simpati kepada revolusi Bolsyewik di Rusia, tidak semua unsur komunisme
cocok bagi alam Indonesia seperti sistem diktatur proletar dan sistem Sovyet
yang menurut Baars merupakan program komunis yang paling esensial. Akhirnya,
diadakanlah pemungutan suara untuk menentukan keputusan. Ternyata hanya
cabang-cabang Surabaya, Bandung, dan Ternate yang menentang perubahan nama
ISDV. Dengan demikian, Baars-Bergsma-Semaun cs. memperoleh kemenangan, dan pada
tanggal 23 Mei 1920 ISDV merubah namanya menjadi Partai Komunist Hindia yang
pada bulan Desember tahun yang sama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).
Dalam susunan pengurus baru terpilih antara lain Semaun sebagai Ketua, Darsono
sebagai Wakil Ketua, Bergsma sebagai Sekretaris, Dekker sebagai Bendahara,
Baars, Sugono, dan lain-lain sebagai anggota pengurus.
Langganan:
Postingan (Atom)
