Kamis, 05 Desember 2013

celoteh

semoga Indonesiaku selalu berjaya,,berkibar dilangit yang biru,, JAYALAH TERUS INDONESIAKU

Rabu, 04 Desember 2013

perbudakan di AS



BAB II. PEMBAHASAN
2. 1 Latar Belakang Perbudakan
            Pada awalnya para budak yang dipekerjakan di Amerika Serikat bagian selatan berasal dari Afrika Barat. Penghidupan pokok rakyat Negro Afrika Barat adalah dari hasil pertanian, disamping menangkap ikan dan berburu. Hasil pertanian yang terdapat di wilayah itu antara lain seperti gandum, kapas, padi dan ketela. Di wilayah itu terdapat beberapa kerajan yang nantinya lebih dikenal dengan nama negara Nigeria. Setiap raja ataupun penguasa tentu memiliki budak-budak, hasil dari tawanan perang yang kemudian dijadikan sebagai hak milik kekayaan negara. Dimana para budak tersebut digunakan untuk membantu mengerjakan tanah-tanah pertanian dan perkebunan.
            Berbagai hal yang menyebabkan timbulnya perbudakan di Afrika Barat adalah selain terjadinya perang, dimana mereka yang kalah perang dijadikan tawanan kemudian digunakan sebagai tenaga budak. Orang yang berhutang dapat pula dijadikan budak karena tidak dapat melunasi hutangnya. Anak-anak yang dilahirkan dari keluarga budak dapat juga menjadi budak karena mewarisi status orang tuanya yang dahulunya juga menjadi budak.
            Perbudakan biasanya dianggap sebagai suatu kekayaan utama dari suatu suku bangsa. Perlu kita ketahui anak-anak para budak tidak boleh dijual, melainkan harus ditampung dan dipelihara sebagai hak milik keluarga. Meskipun mereka menjadi budak namun berhak memiliki kebebasan, diperlakukan sebagai anggota keluarga dan sering dapat menjadi orang bebas kembali dengan jalan membeli kemerdekaannya sendiri.
            Perdagangan budak di Afrika Barat mulai berkembang sejak ditemukannya Benua Amerika pada awal abad ke-16. Mengenai daerah perdagangan di Afrika Barat, ada yang mengatakan bahwa permulaan daerah perdagangan budak terjadi daerah Angola, Kongo, dan Guinea. Selanjutnya meluas ke Sudan barat. Ada yang menyebut lain bahwa perdagangan budak  di Afrika barat itu berasal dari daerah-daerah pedalaman yang jauh.
            Orang-orang Portugis dan Spanyol mulai menjalin hubungan perdagangan dengan penduduk pribumi. Maka sejak abad ke-17 banyak didirikan tempat-tempat perdagangan di sepanjang pantai Afrika Barat. Selain bangsa Portugis dan Spanyol, juga terdapat bangsa-bangsa Eropa yang lain seperti Belanda, Inggris dan Perancis untuk melakukan perdangan budak. Bangsa Belanda berhasil menguasai perdagangan budak di daerah pantai Guinea pada 1595. Para budak diangkut oleh kapal-kapal Belanda dikirim ke Brazilia utara.
            Pada 1672, Inggris mendirikan suatu organisasi dagang di Afrika Barat yang bernama the Royal African Company. Para budak yang dibawa oleh kapal-kapal Inggris ditukar dengan hasil-hasil sperti tekstil, anggur, senjata dan kebutuhan lain.begitu halnya dengan orang Perancis yang turut mengusahakan perdagangan budak di Afrika Barat, yaitu di Senegal pada 1662. Budak-budak tersebut biasanya dikirim ke wilayah Santo Domingo di Kepulauan Haiti.
            Ekspor budak yang dilakukan  dari Afrika Barat yang dilakukan oleh orang-orang Eropa Barat ke Benua Amerika berlangsung hampir empat abad lamanya, yakni sejak permulaan abad ke-16 hingga tahun 1880.
2. 2 Perbudakan di Amerika Serikat
            Impor budak ke wilayah Amerika Serikat bagian Selatan dimulai pada 31 Agustus 1619 oleh John Rolfe, seorang Belanda yang telah menjual sebanyak 20 orang Negro ke Virginia yang pada masa itu merupakan koloni Inggris.
            Wilayah Amerika Serikat bagian selatan  di masa periode kolonial Inggris terbentang dari daerah Maryland sampai Georgia, mempunyai penghasilan pokok beberapa hasil pertanian dan perkebunan yang merupakan sumber penghasilan utama. Berbagai hasil industri di Inggris ditukar dengan hasil perkebunan di daerah koloninya. Untuk mengusahakan jenis tanaman tembakau, koloni-koloni mulai menggunakan tenaga-tenaga budak.
            Latar belakang perbudakan di Amerika Serikat bagian selatan, sesungguhnya sangat berkaitan erat dengan kondisi geografisnya, khususnya dari keadaan ekologinya. Dalam suatu daerah yang memiliki tanah subur memungkinkan tumbuhnya jenis-jenis tanaman perkebunan seperti tebu, nila, kapas, gandum dan juga tembakau yang sesuai dengan lingkungan alamnya. Hal inilah yang dapat mendorong terjadinya perbudakan di daerah pertanian perkebunan di daerah selatan yang sangat memerlukan tenaga-tenaga budak.
            Hal-hal yang mendorong para kolonis Amerika Serikat bagian Selatan untuk menggunakan tenaga-tenaga kulit hitam ialah adanya problem tenaga kerja di berbagai daerah perkebunan. Orang-orang kulit putih gagal menggunakan tenaga kerja dari penduduk asli suku Indian yang sudah biasa hidup bebas dan merdeka di tanah-tanah perkebunan. Pemakaian tenaga kerja kulit putih di perkebunan-perkebunan tidak efektif, karena disamping tidak tahan terhadap iklim panas juga harga tenaganya sangat mahal.
2.3 Praktik Perbudakan
            Praktik perbudakan yang terjadi di wilayah Amerika Serikat di bagian selatan, merupakan lembaga sosial dimana budak terikat oleh sejumlah peraturan yang dipaksakan kepadanya dan harus ditaati olehnya. Praktik-praktik perbudakan menunjukkan adanya eksploitasi sesama umat manusia. Budak-budak dianggap sebagai barang milik yang dikuasai sepenuhnya oleh pemiliknya, sehingga mudah diperjualbelikan. Perbudakan sebagai suatu lembaga sosial diatur dan dilindungi oleh undang-undang dari Negara-negara dibagian wilayah selatan.
2.3 1 Organisasi Perbudakan
            Sistem perbudakan yang terdapat di Amerika Serikat bagian Selatan mempunyai kekhususan yang berbeda dengan sistem perbudakan di Amerika Latin dan di Hindia Barat. Sistem perbudakan di Amerika Latin menunjukan bahwa para pemilik budak masih memperhatikan prinsip-prinsip kemanusiaan terhadap budak-budaknya. Para pemilik budak tak cenderung untuk mengembangkan dan menggunakan lembaga budak secara intensif. Kaum pengusaha perkebunan tidak bermaksud untuk mengeksploitasi tenaga-tenaga budak sehingga dapat mengakibatkan hancurnya kehidupan dan kesehatan para budak.
            Warga kulit putih di selatan menganggap bahwa budak merupakan hak milik sah yang sebagian besar di pelihara oleh para pengusaha perkebunan. Pemerintah federal tidak berwenang menyisihkan sistim perbudakan yang terjadi di berbagai daerah. Hal ini sebenarnya sebagai kelanjutan dari warisan era kolonial tanpa pengawasan dari pemerintah inggris.
            Beberapa tokoh negarawan di selatan berhasil memasukkan peraturan-peraturan yang di susun oleh kongres, berisi ketentuan-ketentuan mengenai pelarian budak-budak negro dari suatu negara bagian ke negara bagian yang lain harus di kembalikan ke pemiliknya. Peraturan tersebut terkenal dengan nama Fugitive Slave Law, yang mulai di susun pada 1 februari,1793. Dengan demikian ketentuan ketentuan mengenai pelarian pelarian budak yang pada umumnya menuju ke wilayah utara harus di kembalikan pada pihak selatan.
            Di dalam lembaga perbudakan semua peraturan yang mengatur hubungan antara tuan dan budak di muat dalam peraturan hukum yang di sebut The Black Codes. Peraturan-peraturan tersebut di legalisir oleh Negara-negara bagian di selatan pada akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19. Isi dari the black codes di antaranya adalah ;
a)      Melindungi hak milik budak
b)      Mengawasi setiap kemungkinan timbulnya gerakan-gerakan negro yang dapat membahayakan kedudukan para pemiliknya.
Para budak di larang melakukan perjajanjian dengan siapapun. Seorang budak tidak di perbolehkan melakukan suatu kekerasan terhada seorang kulit putih. Sebaliknya, pembunuhan yang di lakukan oleh warga kulit putih terhadap seorang budak tidaklah di anggap sebagai suatu perbuatan kriminal.
            Hukuman yang paling ringan bagi para budak yang melanggar ketentuan dalam The Black Codes, ialah di pekerjakan kembali di pekerjaan yang berat. Dapat terjadi pada salah satu anggota tubuh budak terdapat bekas-bekas siksaan yang menandakan bahwa ia pernah melanggar peraturan tersebut. Hukuman yang terberat miasalnya di lakukan oleh komplotan-komplotan budak yang berusaha untuk melakukan pemberontakan harus mengalami hukuman mati di tiang gantungan.
            Pada masa wilayah Amerika Serikat di bagian selatan masih merupakan koloni inggris, sebenarnya sudah ada peraturan-peraturan yang mirip dengan The Black Codes, di Carolina misalnya, sudah terbukti dahulu dibuat peraturan-peraturan yang melarang orang-orang negro memiliki senjata api.
2.3.2 Perbudakan Sebagai Lembaga Sosial
Pada masa perbudakan masyarakat Negro dapat dikategorisasikan dalam dua kelompok yakni orang – orang Negro bebas dan orang – orang Negro Budak, baik yang bekerja sebagai pelayan Rumah Tangga maupun budak – budak yang bekerja di tempat pertanian dan perkebunan.
Kelompok Negro bebas berasal dari :
·         Dahulunya menjadi budak yang bekerja sebagai pelayan rumah tangga yang merasa dirinya memiliki kehidupan sosial yang  lebih baik jika dibanding dengan budak – budak pertanian.
·         Berasal dari hubungan gelap antara budak – budak wanita dengan tuannya sendiri. Anak keturunannya disebut golongan Mulatto. Anak – anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan orann Mulatto dengan orang kulit putih juga disebut Negro bebas.
·         Para budak yang dapat membeli kebebasannya sendiri dari tuannya
·         Para budak yang berhasil melarikan diri dari tuannya biasanya ke wilayah Utara
Keadaan ekonomi sosial orang – orang Negro bebas berbeda dengan mereka yang berstatus budak. Diwilayah selatan, kelompok orang – orang Negro bebas yang berdiam di pedesaan mempunyai kondisi sosial ekonomi cukup, banyak diantaranya menjadi petani. Yang berada di kota sebagai ahli mesin, tukang kayu, pandai besi, menjadi sains, dan sebagainya.
Para budak diimpor dari Afrika Barat dipilih dan dikelompokkan berdasarkan perbedaan suku bangsa. Hal ini bertujuan untuk menempatkan budak – budak tersebut sasuai dengan keadaan fisik, sifat, perilaku, dan sebagainya.
Kehidupan keluarga perkebunan memiliki hubungan sosial yang erat antara tuan dan budak. Para budak sangat setia dan disiplin terhadap tuannya. terkadang mereka memerintah terhadap budak – budak lain, sehingga budak tak sadar akan kedudukannnya sebagai budak.
Para budak tidak dapat melindungi keluarganya sendiri dari gangguan kulit putih. Budak wanita tidak dapat melindungi dirinya terhadap keinginan pemuasan seksual tuannya. Budak wanita hanya dapat perlindungan dari tuannya apabila mendapat gangguan dari sesama budak.
Tempat kediaman para budak perkebunan berupa gubug – gubug kecil yang terletak 3 mil dari perkebunan dengan tujuan untuk memudahkan para budak bekerja. Dalam mengawasi segala kegiatan par abudak perkebunan, ditempat – tempat gubung didirikan pos – pos penjagaan. Setiap 1 – 4 minggu sekali dilakukan patroli oleh para pengusaha perkebunan yang dibantu oleh mandornya.

2.3 3 Usaha Penghapusan Perbudakan
Diketahui bahwa jumlah penduduk Negro yang berada di wilayah Utara relatif kecil. Tenaga Negro di Utara pada umumnya digunakan sebagai pelayan Rumah tangga. Sejak 1804,wilayah Utara telah melarang adanya perbudakan.
            Gerakan anti perbudakan sudah terjadi pada abad ke 1, beberapa tokohnya antara lain John Woolman dan Anthony Benezet. Setelah perang kemerdekaan, dipelopori oleh kolompok Quacker, gerakan Abolisi dan masyarakat anti perbudakan mulai tersebar di wilayah Utara. Para pemimpin kulit putih dan Negro, mendirikan suat gerakan Abolisi yang terorganisasi dengan baik, terkenal dengan nama The Underground Railroad. Gerakan ilegal ini didirikan pada tahun 1804, terdapat negara bagian seperti Indiana, Illionis, Ohio,  dan Pennsylvania. Agar lebih aman, aktivitasnya dilakukan pada malam hari. Berbagai cara dilakukan seperti Mulatto menyamar sebagai orang – orang kulit putih, dan sebagainya.
Reaksi orang Selatan dalam mengahadapi gerakan Abolisi yakni dengan mengeluarkan perintah penangkapan terhadap tokoh dan anggota gerakan Abolisi, pengejaran terhadap budak – budak yang melarikan diri kebagian Utara. Pemimpin Selatan menyamar untuk menyelidiki keadaan masyarakat di Indiana dan Ohio. Ia berhasil mengetahui tempat persembunyiannya dan meminta kembali para budaknya. Namun hal tersebut ditolak karena pamimpin Selatan berada di wilayah bebas budak / anti budak.
Pada tahun 1830-an, bagian Utara sentimen antiperbudakan mulai kuat, di dukung oleh gerakan tanah bebas budak yang menetang perluasan perbudakan ke beberapa wilayah.  Gerakan penghapusan perbudakan pada tahun 183-an termasuk gigih. Mereka terus berjuang dalam melakukan penghapusan perbudakan. Sebuah tahapan dari gerakan antiperbudakan ini termasuk membantu pelarian budak ke tempat yang aman di bagian Utara melewati Tapal batas masuk ke Kanada. Ruta – ruta rahasia di bentuk tahuan 1830 di seluruh bagian Utara. Di Ohoi  sendiri, diperkirakan dari 1830 – 1860 kurang lebih 40000 budak pelarian ditolong unutk bebas. Sekitar pada tahun 1840 sekitar 2000 kelompok antiperbudakan dengan beranggotakan 200000 orang.
            Terjadinya suatu pemberontakan budak pada hakikatnya tidak terlepas dari keadaan lingkungan sosial yang sangat menekan kehidupannya yang disebabkan oleh berbagai tindakan dari pemiliknya. Disorganisasi keluarga dalam masyarakat budak merupakan sumber utama timbulnya pemberontakan. Ada beberapa faktor diantaranya yakni :
·         Perasaan tidak puas
Perasaan tidak puas dari para budak itu karena adanya ascribed status yaitu bahwa warga kulit putih di Selatan yang menganggap bahwa budak berstatus sebagai hak milik. Peraturan yang tercantum pada The Black Codes sangat menekan perasaan para budak. Budak – budak sering mengalami tekanan jiwa akibat perlakuan kejam dari para tuannya.

·         Putus asa
Para budak – budak akan merasa kehilangan masa mendatang dan kepercayaan pada diri sendiri. Perasaan putus asa dari para budak itu dapa tdikaitkan dengan keadaan sosialnya yang amat menyedihkan.
Sebagai motor penggerak dalam suatu pemberontakan diperlukan adanya pemimpin. Pemberontakan itu selalu terjadi di pertanian dan perkebunan, karena tempat itu  menjadi susatu komunitas budak yang terisolasi. Para pemimpin budak di dalam mengorganisasi massanya dilakukan secara rahasia.
Pemberontakan budak Amerika Serikat sebenarnya telah terjadi sejak wilayah tersebut dikuasai oleh Kolonis Inggris. Selama era koloni Inggris sampai berakhirnya Perang Saudara di Amerika Serikat (1607 - 1865), telah terjadi 115 pemberontakan budak yang terjadi di berbagia wilayah bagian di Amerika Serikat, sebagian besar di wilayah Selatan.
Selama periode 1800 – 1864, telah terjadi 54 kali pemberontakna budak yang semuanya terdapat di wilayah Selatan. Daerah virginia merupakan tempat paling banyak terjadi pemberontakan. Selama periode 1800 – 1864 terjadi 20 kali.
Ada ke unikan dalam mempelajari tokoh pemimpin budak dalam pemberontakan yakni pemimpin tersebut dari budak rumah tangga yang mendapat kebebasan dan kemerdekaanya yang tak lagi berstatus budak. Mereka bisa menjadi pemimpin pemberontakan bisa pula menjadi penghianat karean menggagalkan rencana pemberontakan.
Ketiga peristiwa pemberontakan budak yang terjadi pada 1800, 1822, dan 1831 yakni :
1.                Gabriel Prosser adalah budak rumah tangga sebagai sais dengan tuan bernama Thomas Prosser. Ia seorang pengikut kristiani dan sangat menekuni ajaran injil. Perjuangannya dalam menentang perbudakan tu berdasarkan pada konsep – konsep agam dan rasional dimana mengemukakan bahwa Tuhan akan membebaskan kaum budak. Dalam melakukan suatu pemberontakan, ia dibantu oleh dua orang kulit putih. Mereka berusaha memncari bantuan persenjataan dan bahan peledak. Ia merencenakan suatu pemberontakan di daerah Henrico, dikota Richmond, Virginia, pada 1 september 1800. Pengikutnya yang berjumlah 1100 budak dibagi dalam tiga kelompok besar. Dimana mereka harus berhasil merebut gudang senjata dengan menyergap penjaganya.sebelum melaksanakan rencana, ternyata rahasia pemberontakan telah bocor karean ada dua budak yang mengkhianatinya dengan melapor kepada pemerintahan Virginia. Maka dengan segera Virginia mengeluarkan tentara sejumlah 600 orang untuk mencegah pemberontakan. Dengan demikian pemberontakan yang dilakukan oleh Gabriel Prosser gagal karena adanya pengkhianatan dari dua budak rumah tangga. Kemudian Gabriel di penjara pada 25 September 1800, dan dikirim ke kota Richmond. Ia dipaksa untuk memberi informasi dengan siapa ia bersekongkol, namun tidak dikatankannya maka ia mendapat hukuman mati di tiang gantung pada tanggal 7 Oktober 1800.
2.                 Demark Vesey melakukan pemberontakan di bagian South Carolina pada tahun 1822. Perjuangannya terpengaruh oleh konsep pemikiran Gabriel Prosser. Ia juga menggunakan konsep agama dan ide dari revolusi Perancis. Ia berusaha mencari bantuan ke Santo Domingo. Ia menetapkan pemberontakan pada minggu kedua juli 1822.  Ia sangat berhati – hati. Namun perjuangannya juga  gagal kerana penghianatan yang dilakukan oleh orang yang ia percaya yakni bernama Devany. Akibat kegagalannya itu, 139 orang ditahan, 47 orang dimaksukkan ke penjara termasuk 4 orang kulit putih, 35 orang budak menjalani hukuman mati, Vesey sendiri menjalani hukuman mati di tiang gantung.
3.                Nat Turner budak rumah tangga dan mendapatkan kemerdekaannya menjadi Negro bebas. Ia sebagai seorang pendeta yang tekun mempelajari isi Injil. Ia mneggunakan konsep supra natural dalam melakukan perjuangannya membebaskan para budak. Ia juga gemar dalam mengelolah hal – hal mistik sehingga Ia berideologi yang Missianistik artinya “bahwa dalam situasi sosial yang kacau manusia sudah tidak berdaya lagi mengatasi dengan hal – hal yang rasional”. Ia bertindak sendiri dalam melakukan pemberontakan takut adanya penghianatan dari budak – budak lainnya. Ia memulai pemberontakan baru pad atanggal 21 Agustus 1831. Sebagai langkah pertama ia beserta para pengikutnya merusak dan membakar tanah – tanah perkebunan dan ia juga membunuh orang - orang kulit putih sebanyak 60 orang di daerah Southampton. Ia dikatakan sebagai “bandit besar”.
Sebagai tindak balasan, budak yang terlibat dalam pemberontakan tersebut dibinasakan. Nat Turner bersembunyi di pegunungan daerah Southampton selama enam minggu, apda akhirnya ia beserta para pengikutnya berhasil di tangkap pada 30 Oktober 1831. Ia menjalani hukuman mati di tiang gantung. Pemberontakannya berakhir pada tanggal 13 Oktober 1831.

sejarah latarbelakang PKI

1 Berdirinya PKI
Benih – benih paham Marxis datang dari luar negeri dan mulai ditanamkan di bumi Indonesia pada masa sebelum perang dunia I, yaitu dengan datangnya seorang pemimpin buruh negeri Belanda bernama H.J.F.M Sneevliet. Ia adalah anggota Sociaal Democratische Arbeiderspartij ( SDAP ) atau partai buruh sosial demokrat.
Di Indonesia ia mula – mula bekerja sebagai anggota staf redaksi pada surat kabar Soerabajaasch Handelsblad, tidak lama kemudian pada tahun 1913 ia pindah ke Semarang dan menjadi seketaris pada Semarangese Handelsvereniging. Bagi dia tinggal di Semarang adalah menguntungkan karena Semarang adlah pusat Vereniging van Spoor en Tramweg Personel ( VSTP ), serikat buruh yang tertua di Indonesia dan pada masa itu merupakan suatu perkumpulan yang sudah tersususn baik. Sebagai pemimpin sosialis yang berpengalaman dalam waktu singkat ia berhasil membawa VSTP ke arah yang lebih radikal. Atas prakarsanya pada tanggal 9 mei 1914 bersama – sama dengan orang – orang sosialis lainnya seperti J.A Brandsteder, H.W Dekker, dan Bergsma berhasil didirikan suatu organisasi yang diberi nama Indische Sociaal – Democratische Vereniging
( ISDV ).
Pada tahun 1915 ISDV berhasil menerbitkan majalah Het Vrije Woord dengan redaksi Sneevliet, Bergsma, dan Adolf Baars. Sneevliet dan kawan – kawan merasa bahwa ISDV tidak dapat berkembang  karena tidak berakar di dalam massyarakat Indonesia. Oleh karena itu, mereka menganggap adalah lebih efektif untuk bersekutu dengan gerakan yang lebih besar yang dapat bertindak sebagai jembatan kepada massyarakat Indonesia. Mula – mula bersekutu dengan Insulinde yang mempunyai anggota lebih besar daripada ISDV ( tahun 1917 lebih kurang 6000 orang ). Akan tetapi, karena tidak memenuhi sasaran tujuan ISDV, sesudah satu tahun, kerja sama itu bubar. Sasaran kemudian dialihkan kepada Sarekat Islam pada masa itu tahun 1916 mempunyai ratusan ribu anggota dan merupakan suatu gerakan raksasa di dalam pergerakan nasional Indonesia, dengan menggunakan taktik infiltrasi yang dikenal dengan nama “blok di dalam”, ISDV berhasil menyusup ke dalam SI. Caranya ialah dengan menjadikan anggota ISDV  menjadi anggota SI dan sebaliknya menjadikan anggota SI menjadi anggota ISDV. Dalam waktu satu tahun Sneevliet dan kawan – kawannya telah mempunyai pengaruh yang kuat di kalangan anggota amggota SI. Mereka memperkuat pengaruhnya dengan jalan menunggangi keadaan buruk akibat perang dunia I dan panen padi yang jelek serta ketidakpuasan buruh perkebunan sebab upah yang rendah dan membumbungnya harga – harga.
Ada beberapa hal yang menyebabkan berhasilnya ISDV melakukan infiltrasi ke dalam tubuh SI:
1.      Central Srekat Islam ( CSI ) sebagai badan koordinasi pusat masih sangat lemah kekuasaannya. Tiap – tiap cabang SI bertindak sendiri – sendiri secara bebas. Para pemimpin lokal yang kuat mempunyai pengaruh yang menentukan di dalam SI cabang.
2.      Kondisi kepartaiaan pada masa itu memungkinkan orang untuk sekaligus menjadi anggota lebih dari satu partai. Hal ini disebabkan pada mulanya organisasi – organisasi itu didirikan bukan sebagai suatu partai politik melainkan sebagai suatu organisasi guna mendukung berbagai kepentingan sosial budaya dan ekonomi. Di kalangan kaum terpelajar menjadi kebiasaan bagi setiap orang untuk memasuki berbagai macam organisasi yang dianggapnya dapat membantu kepentingannya.
Kemudian Sneevliet dan kawan-kawan berhasil mengambil alih beberapa pemimpin muda SI menjadi pemimpin ISDV. Yang terpenting antara pemimpin muda itu adalah Semaun dan Darsono yang pada tahun 1916 menjadi anggota SI cabang Surabaya. Surabaya pada waktu itu adalah pusat SI. Tidak lama kemudian Semaun pindah ke Semarang ketika itu SI cabang semarang telah mendapat pengaruh kuat dari ISDV. Semaun berhasil mengembangkan keanggotaannya dengan pesat, dari 1.700 orang pada tahun 1916 menjadi 20.000 orang setahun kemudian. Akan tetapi, karena orientasi yang Marxistis, di bawah pengaruh ISDV, mereka menjadi lawan CSI yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto. SI Semarang menyerang CSI sama sengitnya seperti mereka menyerang pemerintah kolonial dan kapitalis asing. Oleh karena campur tangan ISDV dalam pertikaian antara CSI dengan SI Semarang, dalam kongresnya bulan Oktober 1917 Sarekat Islam memutuskan untuk menghentikan segala hubungan dengan ISDV.
Sementara itu, di dalam ISDV sendiri timbul perpecahan. Oleh karena sikap pemimpinnya yang terlalu radikal, golongan yang moderat di dalam ISDV mengundurkan diri. Pada bulan September 1917 mereka membentuk SDAP cabang Hindia Belanda yang kemudian menjadi Indische Sociaal-Democratische Partij (ISDP).
Pada waktu pecah revolusi Bolsyewik di Rusia, tubuh ISDV telah bersih dari unsur-unsur yang moderat dan dapat dikatakan sikapnya telah bersifat komunistis. Berita tenang kemenangan kaum Bolsyewik disambut dengan penuh antusiasme. Baars dengan berapi-api menyerukan agar revolusi Rusia diikuti sekarang juga di Hindia Belanda. Pada akhir tahun 1917 ISDV mulai mengerahkan serdadu-serdadu dan pelaut-pelaut Belanda untuk aksi-aksi mereka. Dalam waktu 3 bulan mereka berhasil mengumpulkan 3.000 orang di dalam gerakan tersebut. Kaum merah mengorganisasi demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan oleh serdadu-serdadu dan pelaut-pelaut yang berkelahi dengan polisi. Darsono melalui surat kabar ISDV menyerukan dikobarkannya pemberontakan dan dikibarkannya bendera merah, sedangkan partai-partai yang moderat seperti Budi Utomo, Insulinde, SDAP Hindia Belanda dan SI mendesak pemerintah kolonial belanda untuk menggantikan Volksraad dengan parlemen pilihan rakyat. Krisis november segera mereda ketika Gubernur Jenderal van Limburg Stirum menjanjikan akan dilakukan perubahan-perubahan yang luas. Ketika suasana dapat dikuasai, pemerintah kolonial segera mengambil tindakan-tindakan keras. Anggota-anggota militer yang indisipliner dan menimbulkan kekacauan dihukum berat, sedangkan pegawai negeri yang terlibat dimutasikan. Sneevliet diusir, sedangkan Darsono, Abdul Muis, dan beberapa pemimpin Indonesia lainnya ditangkap. Dengan tindakan ini ISDV mengalami depresi. Akhir 1918 merupakan akhir masa pertama pertumbuhan ISDV. Dengan demikian, pada akhir tahun 1918 gerakan kaum sosialis dapat dikatakan mati.
Masa tahun 1919 merupakan masa sulit bagi para anggota golongan Eropa di dalam ISDV. Sebagai akibat tindakan besar pemerintah kolonial, banyak diantara mereka yang dipenjarakan dan diusir dari Hindia Belanda. Karena kehilangan pemimpin serta kegagalan-kegagalan gerakan mereka di negeri Belanda dan Hindia Belanda, peran golongan Eropa di dalam ISDV menjadi berkurang. Muncullah aktivis-aktivis bangsa Indonesia di dalam pimpinan ISDV. Mereka itu antara lain adalah Semaun dan Darsono yang telah memperoleh didikan Sneevliet. Sebagai hasil kongres Serikat Islam tahun 1918, diangkatlah Darsono sebagai propagandis resmi CSI dan Semaun sebagai komisaris wilayah Jawa Tengah. Penempatan ini menunjukkan kemajuan ISDV karena para pemimpin utamanya yang berhaluan kiri mempunyai kedudukan kuat dalam Sarekat Islam. Selama tahun 1919 para pemimpin ISDV dari golongan Indonesia meningkatkan usahanya untuk mempengaruhi SI agar menjadi lebih radikal.
Dalam usahanya untuk menyalurkan aktivis partai-partai agar tidak membahayakan, pemerintah kolonial berusaha untuk mengalihkan kegiatan politik mereka kepada kegiatan ekonomi sebagai usaha untuk membantu menaikkan taraf hidup rakyat sesuai dengan “politik etis”. Ketika pemerintah kolonial bermaksud untuk mengalihkan SI menjadi organisasi buruh, hal itu sangat ditunggu dengan penuh minat oleh ISDV, karena hal ini akan dapat meningkatkan pengaruh SI Semarang yang lebih dekat hubungannya dengan persoalan buruh. Lagi pula hal itu mungkin akan menyebabkan para pemimpin CSI lebih memerhatikan ideologi kaum sosialis radikal dan mengurangi titik beratnya pada persoalan agama. Hal ini dianggap penting oleh ISDV, oleh karena ISDV sendiri terbtas kemampuannya untuk mengorganisasi kaum buruh, walaupun mempunyai pengikut-pengikut di kalangan pekerja-pekerja perkebunan, kuli-kuli, dan buruh-buruh pertanian yang tidak mempunyai tanah dan yang merupakan jumlah terbesar kaum buruh Indonesia.
Ketika SDAP di negeri Belanda pada tahun 1918 mempermaklumkan dirinya menjadi Partai Komunis Belanda (CPN), beberapa anggota bangsa Eropa ISDV mengusulkan untuk mengikuti jejak itu. Sebagai hasil gagasan mereka, pada kongres ISDV ke-7 di bulan Mei 1920 dibicarakan usul untuk menggantikan ISDV menjadi Perserikatan Kommunist di Hindia. Di antara sponsor utama terdapat Baars. Baars menyatakan dirinya berbicara atas nama para anggota yang menginginkan agar organisasi membedakan dirinya dari kaum sosialis revisions dan menyatakan hubungan kekeluargaannya dengan partai yang kemudian menjurus ke arah “Komintern”. Demikian pula Bergsma dan Semaun menyatakan keinginan untuk mengubah nama ISDV, dengan tujuan untuk membedakan diri dengan “kaum sosialis palsu” dan untuk mengidentifikasikan diri dengan Komintern. Menurut Bergsma, ISDV sudah sejak lama menjadi komunis.
Di lain pihak golongan yang menentang yang diwakili oleh Hartogh menganggap bahwa walaupun ISDV menaruh simpati kepada revolusi Bolsyewik di Rusia, tidak semua unsur komunisme cocok bagi alam Indonesia seperti sistem diktatur proletar dan sistem Sovyet yang menurut Baars merupakan program komunis yang paling esensial. Akhirnya, diadakanlah pemungutan suara untuk menentukan keputusan. Ternyata hanya cabang-cabang Surabaya, Bandung, dan Ternate yang menentang perubahan nama ISDV. Dengan demikian, Baars-Bergsma-Semaun cs. memperoleh kemenangan, dan pada tanggal 23 Mei 1920 ISDV merubah namanya menjadi Partai Komunist Hindia yang pada bulan Desember tahun yang sama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam susunan pengurus baru terpilih antara lain Semaun sebagai Ketua, Darsono sebagai Wakil Ketua, Bergsma sebagai Sekretaris, Dekker sebagai Bendahara, Baars, Sugono, dan lain-lain sebagai anggota pengurus.